Monday, 2 September 2019

Ungkapan Yang Tak Tersuarakan.


                                                                                  - Aqilah Mariana Putri
Kamu tertawa. Entah apa yang membuatmu tertawa. Tampak lesung pipi dikedua belah pipimu. Asalkan kamu tahu, tiap kali kamu menunjukkan tawamu atau senyum mu, tiap kali itu juga mataku tak bisa beralih dari sosokmu. Dan dikala itu juga aku berharap menjadi salah satu penyebabmu tertawa dan tersenyum. Dan entah kapan harapanku itu menjadi kenyataan. Aku hanya bisa berharap dan terus berharap.
Hari ini kamis. Kamu mengenakan seragam batik. Aku menatap mu dari atas, posisi yang selalu berulang seperti ini, hampir setiap hari. Aku yang menatapmu dari lantai dua tepat di depan kelasku. Dan kamu yang tak menyadari tatapanku, duduk di bawah pohon yang dekat dari lapangan basket sekolah.
Kulihat jam tangan yang  ada ditangan kiriku. Sekarang tepat pukul tujuh, dan kamu masih duduk disana bersama kedua temanmu. 15 menit lagi, dan bel masuk akan segera berbunyi. 10 menit kemudian,  kau masih tetap di tempat yang sama. Padahal 5 menit lagi bel akan bunyi dan kelas akan segera dimulai.
Apa kamu tak ada kelas pagi ini?
Apa gurumu tak marah kamu sengaja terlambat masuk kelas?
Pertanyaan itu terus berulang dibenakku. Pertanyaan yang tidak akan pernah tersuarakan. Pertanyaan yang tidak akan pernah kau ketahui bahwa aku pernah menanyakannya. Ah, sudahlah aku harus masuk kelas sekarang. Pelajaran pertamaku akan segera dimulai. Sampai jumpa besok hari dengan kegiatan yang sama.
Kringg.. kringg….
Pelajaran akan dimulai, namun hari ini sedikit berbeda. Untuk pertama kalinya dalam sehari, aku bisa melihatmu untuk kedua kalinya. Guru mata pelajaran pertama dan kedua yang mengajar di kelas ku berhalangan hadir. Ku manfaatkan kesempatan ini untuk pergi ke kantin lebih dulu, agar tak harus antri seperti biasanya karena kantin selalu saja penuh. Percayalah, menghabiskan banyak waktu di kantin hanya untuk menunggu pesanan itu menjengkelkan.
Untuk pertama kalinya, setelah dari kantin aku berpapasan denganmu di lapangan. Awalnya, setelah dari kantin aku berencana untuk ke kelas, namun aku harus berbelok arah untuk ke toilet terlebih dahulu. Kamu yang memakai baju hitam polos yang sudah kulihat beberapa kali ini kamu pakai. Di tengah lapangan, kamu berdiri hendak pergi, setelah memungut bola basket yang tadi kamu mainkan. Kamu pergi, tanpa melihat dan menyadari akan kehadiran sosok ku yang sedang berdiri menatap sosok mu, sosok yang selalu aku puja. Memangnya aku siapa? Sampai keberadaanku harus disadari olehnya? Batinku.
Setelah hari itu, 1 hal yang ku ketahui tentangmu
Pertama, Kamu olahraga tiap hari kamis dijam pelajaran kedua
Sejak hari itu, esoknya kegiatanku bertambah. Memandangmu setiap pagi, dan mencarimu dilapangan basket tiap hari kamis, sebelum jam pelajaran kedua berakhir. Aku mencarimu bukan untuk menyapa, atau mengajak mu mengobrol. Tidak, bukan itu! Aku tidak memiliki keberanian sebesar itu untuk melakukannya. Aku mencarimu, hanya untuk memandangmu secara diam-diam. Hanya itu!
Di minggu selanjutnya tepat di hari Senin pagi. Aku menatap ke tempat biasanya kamu berada, dimana aku biasanya melihatmu ditemani oleh kedua orang yang mungkin adalah sahabatmu. Disana kosong. Tak ada lagi yang bisa kuperhatikan diam-diam. Tak ada lagi tawa dan senyum yang bisa ku lihat dihari ini.
“Mungkin dia sedang malas, makanya dia tidak ada disitu,” ucapku dengan suara yang nyaris tak bisa didengar.
Hari selanjutnya, selanjutnya, dan selanjutnya. Tepat satu minggu tempat itu tetap saja kosong. Bahkan sebelum istirahat pun kamu tak ada dilapangan. Jujur, tiap hari dalam seminggu ini, aku selalu menantikan keberadaanmu. Aku rindu melihat senyum dan tawa mu.
Hari ini Rabu, aku ke kantin bersama beberapa teman kelas ku. Saat ingin kembali ke kelas, aku melihatmu. Tanganmu sedang sibuk memakaikan dasi di lehermu. Sementara memerhatikanmu, matamu melihat ke arahku. 6 detik, mata kita saling beratatapan. Namun, dengan cepat kamu memalingkan wajahmu, dan berjalan menjauh dengan cepat. Aku hanya bisa melihat punggungmu yang mulai menjauh, dan akhirnya menghilang di persimpangan koridor kelas.
“mungkin dia lagi buru-buru” pikirku.
Setelah beberapa kali aku melihatmu berjalan tergesa-gesa keluar dari area sekolah setiap istrahat pertama atau kedua. Lalu setelah kembali, kamu menenteng satu kotak bekal berwarna merah hati. Aku mendapat point kedua dan ketiga tentang mu.
Kedua, Tiap istirahat pertama atau kedua, kamu mengambil bekal makanan dari luar.
Ketiga, Kotak makanan mu berwarna pink dengan gaambar hati dibagian tengah tutupnya. Mirip seperti milik perempuan.
Untuk beberapa kali ini, kamu terlihat selalu menyendiri, bahkan dua orang temanmu itu sudah tidak pernah lagi kulihat bersamamu. Aku menyimpulkan point ke empat tentang dirimu.
Keempat, Lebih sering terlihat sendirian
Hari kamis berikutnya, aku melihatmu keluar gerbang tanpa membawa tas. Selalu tergesa-gesa, mungkin begitulah kamu. Dengan baju putih bergaris dan celana olahraga. Baju kedua yang kulihat darimu selain seragam sekolah dan baju hitam polos milikmu.
Entah mengapa, hanya mengetahui empat fakta yang kubuat berdasarkan spekulasi ku saja, membuat bibirku ingin selalu tersenyum. Sampai ketika aku melihatmu pulang sekolah sambil mengendarai motor merah melewati gedung sekolah.
Lima, Bawa motor sendiri ke sekolah
Point kelima yang kubuat tentang dirimu. Point yang kubuat tepat saat aku melihatmu memberhentikan motor mu di pinggir jalan, di depan seorang gadis. Kamu kelihatannya sedang mengajak gadis itu untuk pulang bersama. Mood ku memburuk saat itu juga. Ku paksa pikiranku untuk tetap berpikir positif.
Aneh rasanya. Mengapa setelah kamu menawarinya kamu menoleh ke belakang. Aku disitu dan kupikir kamu melihatku. Aku hanya berharap, semoga kamu tidak melihat raut kekecewaan diwajahku.
Setelah kejadian itu, aku makin sering melihatmu mengajak gadis itu pulang. Positive thinking saja. Aku juga beberapa kali ini melihatmu, dan beberapa diantara beberapa kali tersebut, mata kita sempat bertemu. Mungkin hanya perasaanku saja. Tapi tiap kali pandangan kita bertemu kamu mendadak diam. Sebelumnya, aku bahkan melihatmu tertawa. Lalu dengan cepat kamu mengontrol wajahmu menjadi datar, ketika melihat ku. Kenapa?
Apa dia tahu kalau aku sering menatapnya?
Apa dia tahu kalau aku memiliki perasaan khusus padanya?
Tolong, jangan begitu! Tetaplah tersenyum. Teruslah tertawa bahkan ketika mata kita bertemu. Aku suka senyuman dan tawamu. Aku suka tiap kali melihat kedua lesung pipimu. Aku suka melihat caramu tertawa sampai kedua matamu hampir tertutup.
“Oh, sepertinya dia sedikit sipit,” gumamku.
Setelah berpikir panjang. Aku pikir, aku mendapatkan point ke enam sekaligus point terakhir tentangmu.
Keenam, Kamu tidak menyukaiku.
Sungguh, rasanya sesak melihatmu terdiam dengan tatapan dingin saat mata kita bertemu.
Sebegitu bencinyakah kamu melihatku?
Sebegitu tak sukanya kamu menyadari bahwa aku sering memperhatikan mu?
Ku rasa jawaban dari pertanyaaku bisa kujawab sendiri. Iya. Kamu benci. Kamu benci melihatku. Kamutak suka aku menatapmu.
Tenang. Aku orang yang mudah menyerah. Aku juga orang yang tidak suka memaksa. Kamu tidak suka melihatku? Baiklah! Aku bisa menghilang. Sesuai keinginanmu.
Jarak kelas kita lumayan jauh dan itu menguntungkan buat ku dan tentunya untuk mu juga. Sekarang, aku tak perlu lagi menatapmu dari atas atau mencarimu ketika aku berada di luar kelas. Sebelum kamu sadar akan semuanya. Sebelum kamu sadar dengan perasaanku terhadapmu. Aku harus berhenti menampakkan wajahku di hadapanmu.
Kita tentunya akan bertemu lagi di sekolah. Tapi tak apa, abaikan saja aku. Mulai hari ini aku memutuskan untuk berhenti menatap dan mencarimu. Aku berhenti mengagumimu.
Ya, aku hanya mengagumimu. Walaupun aku berani bertaruh bahwa perasaanku tidak sebatas hanya mengagumi sosokmu. Awalnya, mungkin aku hanya kagum, namun perasaan manusia selalu berubah-ubah bukan? Mungkin hari ini kamu tidak menyukaimu. Tapi, belum tentu besok. Begitu juga dengan ku. Hari ini mengkin aku hanya mengagumi sosokmu. Namun siapa yang tahu esok harinya. Tidak ada yang tahu bagaimana cara hati manusia bekerja, bukan?. Yang jelas hati menusia selalu berubah-ubah. Itu yang kutahu tentang hati manusia.
Untuk apa yang kurasakan, kamu tak perlu tahu. Bukan salahmu, hanya saja memang semua ini adalah keinginanku. Untukmu, terima kasih karena telah menjadi sosok yang kukagumi. Walaupun ungkapan terima kasihku ini takkan pernah tersampaikan dan tersuarakan  padamu.

No comments:

Post a Comment