- Aqilah Mariana Putri
Kamu
tertawa. Entah apa yang membuatmu tertawa. Tampak lesung pipi dikedua belah
pipimu. Asalkan kamu tahu, tiap kali kamu menunjukkan tawamu atau senyum mu,
tiap kali itu juga mataku tak bisa beralih dari sosokmu. Dan dikala itu juga
aku berharap menjadi salah satu penyebabmu tertawa dan tersenyum. Dan entah
kapan harapanku itu menjadi kenyataan. Aku hanya bisa berharap dan terus
berharap.
Hari ini
kamis. Kamu mengenakan seragam batik. Aku menatap mu dari atas, posisi yang
selalu berulang seperti ini, hampir setiap hari. Aku yang menatapmu dari lantai
dua tepat di depan kelasku. Dan kamu yang tak menyadari tatapanku, duduk di
bawah pohon yang dekat dari lapangan basket sekolah.
Kulihat
jam tangan yang ada ditangan kiriku.
Sekarang tepat pukul tujuh, dan kamu masih duduk disana bersama kedua temanmu.
15 menit lagi, dan bel masuk akan segera berbunyi. 10 menit kemudian, kau masih tetap di tempat yang sama. Padahal
5 menit lagi bel akan bunyi dan kelas akan segera dimulai.
Apa kamu tak ada kelas pagi ini?
Apa gurumu tak marah kamu sengaja
terlambat masuk kelas?
Pertanyaan
itu terus berulang dibenakku. Pertanyaan yang tidak akan pernah tersuarakan.
Pertanyaan yang tidak akan pernah kau ketahui bahwa aku pernah menanyakannya.
Ah, sudahlah aku harus masuk kelas sekarang. Pelajaran pertamaku akan segera
dimulai. Sampai jumpa besok hari dengan kegiatan yang sama.
Kringg.. kringg….
Pelajaran
akan dimulai, namun hari ini sedikit berbeda. Untuk pertama kalinya dalam
sehari, aku bisa melihatmu untuk kedua kalinya. Guru mata pelajaran pertama dan
kedua yang mengajar di kelas ku berhalangan hadir. Ku manfaatkan kesempatan ini
untuk pergi ke kantin lebih dulu, agar tak harus antri seperti biasanya karena
kantin selalu saja penuh. Percayalah, menghabiskan banyak waktu di kantin hanya
untuk menunggu pesanan itu menjengkelkan.
Untuk
pertama kalinya, setelah dari kantin aku berpapasan denganmu di lapangan.
Awalnya, setelah dari kantin aku berencana untuk ke kelas, namun aku harus
berbelok arah untuk ke toilet terlebih dahulu. Kamu yang memakai baju hitam
polos yang sudah kulihat beberapa kali ini kamu pakai. Di tengah lapangan, kamu
berdiri hendak pergi, setelah memungut bola basket yang tadi kamu mainkan. Kamu
pergi, tanpa melihat dan menyadari akan kehadiran sosok ku yang sedang berdiri
menatap sosok mu, sosok yang selalu aku puja. Memangnya aku siapa? Sampai keberadaanku harus disadari olehnya?
Batinku.
Setelah
hari itu, 1 hal yang ku ketahui tentangmu
Pertama, Kamu olahraga tiap hari kamis dijam pelajaran
kedua
Sejak
hari itu, esoknya kegiatanku bertambah. Memandangmu setiap pagi, dan mencarimu
dilapangan basket tiap hari kamis, sebelum jam pelajaran kedua berakhir. Aku
mencarimu bukan untuk menyapa, atau mengajak mu mengobrol. Tidak, bukan itu!
Aku tidak memiliki keberanian sebesar itu untuk melakukannya. Aku mencarimu,
hanya untuk memandangmu secara diam-diam. Hanya itu!
Di minggu
selanjutnya tepat di hari Senin pagi. Aku menatap ke tempat biasanya kamu
berada, dimana aku biasanya melihatmu ditemani oleh kedua orang yang mungkin
adalah sahabatmu. Disana kosong. Tak ada lagi yang bisa kuperhatikan diam-diam.
Tak ada lagi tawa dan senyum yang bisa ku lihat dihari ini.
“Mungkin
dia sedang malas, makanya dia tidak ada disitu,” ucapku dengan suara yang
nyaris tak bisa didengar.
Hari
selanjutnya, selanjutnya, dan selanjutnya. Tepat satu minggu tempat itu tetap
saja kosong. Bahkan sebelum istirahat pun kamu tak ada dilapangan. Jujur, tiap
hari dalam seminggu ini, aku selalu menantikan keberadaanmu. Aku rindu melihat
senyum dan tawa mu.
Hari ini
Rabu, aku ke kantin bersama beberapa teman kelas ku. Saat ingin kembali ke
kelas, aku melihatmu. Tanganmu sedang sibuk memakaikan dasi di lehermu. Sementara
memerhatikanmu, matamu melihat ke arahku. 6 detik, mata kita saling
beratatapan. Namun, dengan cepat kamu memalingkan wajahmu, dan berjalan menjauh
dengan cepat. Aku hanya bisa melihat punggungmu yang mulai menjauh, dan
akhirnya menghilang di persimpangan koridor kelas.
“mungkin
dia lagi buru-buru” pikirku.
Setelah
beberapa kali aku melihatmu berjalan tergesa-gesa keluar dari area sekolah
setiap istrahat pertama atau kedua. Lalu setelah kembali, kamu menenteng satu
kotak bekal berwarna merah hati. Aku mendapat point kedua dan ketiga tentang
mu.
Kedua, Tiap istirahat pertama atau kedua, kamu
mengambil bekal makanan dari luar.
Ketiga, Kotak makanan mu berwarna pink dengan
gaambar hati dibagian tengah tutupnya. Mirip seperti milik perempuan.
Untuk
beberapa kali ini, kamu terlihat selalu menyendiri, bahkan dua orang temanmu
itu sudah tidak pernah lagi kulihat bersamamu. Aku menyimpulkan point ke empat
tentang dirimu.
Keempat, Lebih sering terlihat sendirian
Hari kamis berikutnya, aku melihatmu keluar gerbang tanpa membawa
tas. Selalu tergesa-gesa, mungkin begitulah kamu. Dengan baju putih bergaris
dan celana olahraga. Baju kedua yang kulihat darimu selain seragam sekolah dan
baju hitam polos milikmu.
Entah mengapa, hanya mengetahui empat fakta yang kubuat berdasarkan
spekulasi ku saja, membuat bibirku ingin selalu tersenyum. Sampai ketika aku
melihatmu pulang sekolah sambil mengendarai motor merah melewati gedung
sekolah.
Lima, Bawa motor sendiri ke sekolah
Point
kelima yang kubuat tentang dirimu. Point yang kubuat tepat saat aku melihatmu
memberhentikan motor mu di pinggir jalan, di depan seorang gadis. Kamu
kelihatannya sedang mengajak gadis itu untuk pulang bersama. Mood ku memburuk
saat itu juga. Ku paksa pikiranku untuk tetap berpikir positif.
Aneh
rasanya. Mengapa setelah kamu menawarinya kamu menoleh ke belakang. Aku disitu
dan kupikir kamu melihatku. Aku hanya berharap, semoga kamu tidak melihat raut
kekecewaan diwajahku.
Setelah
kejadian itu, aku makin sering melihatmu mengajak gadis itu pulang. Positive
thinking saja. Aku juga beberapa kali ini melihatmu, dan beberapa diantara
beberapa kali tersebut, mata kita sempat bertemu. Mungkin hanya perasaanku
saja. Tapi tiap kali pandangan kita bertemu kamu mendadak diam. Sebelumnya, aku
bahkan melihatmu tertawa. Lalu dengan cepat kamu mengontrol wajahmu menjadi
datar, ketika melihat ku. Kenapa?
Apa dia tahu kalau aku sering menatapnya?
Apa dia tahu kalau aku memiliki perasaan
khusus padanya?
Tolong,
jangan begitu! Tetaplah tersenyum. Teruslah tertawa bahkan ketika mata kita
bertemu. Aku suka senyuman dan tawamu. Aku suka tiap kali melihat kedua lesung
pipimu. Aku suka melihat caramu tertawa sampai kedua matamu hampir tertutup.
“Oh,
sepertinya dia sedikit sipit,” gumamku.
Setelah
berpikir panjang. Aku pikir, aku mendapatkan point ke enam sekaligus point
terakhir tentangmu.
Keenam, Kamu tidak menyukaiku.
Sungguh,
rasanya sesak melihatmu terdiam dengan tatapan dingin saat mata kita bertemu.
Sebegitu
bencinyakah kamu melihatku?
Sebegitu
tak sukanya kamu menyadari bahwa aku sering memperhatikan mu?
Ku rasa
jawaban dari pertanyaaku bisa kujawab sendiri. Iya. Kamu benci. Kamu benci
melihatku. Kamutak suka aku menatapmu.
Tenang.
Aku orang yang mudah menyerah. Aku juga orang yang tidak suka memaksa. Kamu
tidak suka melihatku? Baiklah! Aku bisa menghilang. Sesuai keinginanmu.
Jarak
kelas kita lumayan jauh dan itu menguntungkan buat ku dan tentunya untuk mu
juga. Sekarang, aku tak perlu lagi menatapmu dari atas atau mencarimu ketika
aku berada di luar kelas. Sebelum kamu sadar akan semuanya. Sebelum kamu sadar
dengan perasaanku terhadapmu. Aku harus berhenti menampakkan wajahku di
hadapanmu.
Kita
tentunya akan bertemu lagi di sekolah. Tapi tak apa, abaikan saja aku. Mulai
hari ini aku memutuskan untuk berhenti menatap dan mencarimu. Aku berhenti
mengagumimu.
Ya, aku
hanya mengagumimu. Walaupun aku berani bertaruh bahwa perasaanku tidak sebatas
hanya mengagumi sosokmu. Awalnya, mungkin aku hanya kagum, namun perasaan
manusia selalu berubah-ubah bukan? Mungkin hari ini kamu tidak menyukaimu.
Tapi, belum tentu besok. Begitu juga dengan ku. Hari ini mengkin aku hanya
mengagumi sosokmu. Namun siapa yang tahu esok harinya. Tidak ada yang tahu bagaimana
cara hati manusia bekerja, bukan?. Yang jelas hati menusia selalu berubah-ubah.
Itu yang kutahu tentang hati manusia.
Untuk apa
yang kurasakan, kamu tak perlu tahu. Bukan salahmu, hanya saja memang semua ini
adalah keinginanku. Untukmu, terima kasih karena telah menjadi sosok yang
kukagumi. Walaupun ungkapan terima kasihku ini takkan pernah tersampaikan dan
tersuarakan padamu.
No comments:
Post a Comment